Fenomena korupsi masih banyak terjadi di negeri ini. Tak
perlu mencari kambing hitam, karena ini bukan soal siapa yang paling salah.
Korupsi
itu seperti merokok atau narkoba. Ada semacam zat adiktif yang mengikat. Jika
seorang sudah pernah mencoba, ia akan terlilit oleh zat adiktif itu.
Fenomena korupsi di negeri ini memang cukup mengerikan,
karena terjadi dari level paling bawah, yaitu itu tingkat RT hingga keatas, di
level MPR /DPR. Ini benar-benar sangat meresahkan banyak pihak.
Sebenarnya, menghadapi kasus korupsi di tanah air ini
sederhan, yaitu membuat semacam efek jera bagi yang lain hingga untuk generasi
selanjutnya tak akan ada yang berani melakukan korupsi semacam itu.
Di China, bagi pejabat Negara yang terbukti melakukan
korupsi, akan ditembak mati. Pun di Arab Saudi, akan dipotong tangannya. Di
Indonesia bagaimana? Hukum masih sangat lunak dan pejabat hukum masih mau
disuap oleh uang. Ini repotnya.
Korupsi itu akan bergenerasi jika tidak dipotong mata
rantainya. Ini artinya, jika generasi kita belum mampu membasmi koruptor sampai
ke akar-akarnya, maka pada generasi depan, korupsi masih banyak terjadi.
Solusi yang palig masuk akalnya adalah membuat sistim hukum
yang sebenar-beratnya kepada koruptor agar mereka tidak lagi mengulangi
perbuatan melawan hukum, dan bagi yang melihat hukuman itu, akan takut jika
melakukan korupsi. Salam reformasi.

Korupsi masih banyak terjadi, sebaiknya kita tetap mawas diri, selalu berpikir positif dan mengambil pelajaran dari perbuatan mereka, agar kita selalu di garis lurus kebenaran , amin
BalasHapus